Pasang iklan

Belum Lama Berita KKN di Desa Penari Menjadi Topik Hangat, Kini Warga NTT Dihebohkan Dengan Cerita Pria yang Menikahi Kuntilanak

GEMA.ID, Soe – Masih hangat diingatan kita tentang cerita misteri KKN di desa penari, kini beredar kembali cerita tentang seorang pria bernama Simon Talan warga Embung Toblopo, Soe, NTT, menikah dengan kuntilanak serta telah memiliki satu anak laki-laki dan perempuan, hal ini diceritakan kepada anaknya setelah dia merasakan kegelisahan.

Cerita ini menjadi teragis ketika kuntilanak mulai meminta tumbal dari seorang anggota keluarganya, bapak Simon tak ingin hal itu terjadi dan memutuskan untuk menjadfikan dirinya sendiri tumbal.

“Malam selasa bapak Simon menginap di rumah Oma anak beliau, setelah keluar dari rumah sakit karena  mengalami kejang-kejang setelah mabuk berat.”

Saat berada di rumah saya selasa malam (27-8-2019), bapa mengaku kalau dia sudah kawin dengan kuntilanak dan punya anak. Si kuntilanak ini meminta tumbal dari anggota keluarga kami, tetapi bapa menolak dan menjadikan dirinya sendiri menjadi tumbal”ungkap oma

Tetapi pada Rabu pagi bapa tiba-tiba menghilang lanjut Oma, pada hari selasa malam Simon Talan sudah meminta untuk pulang kembali ke rumahnya yang berada di tepi Embung Toblopo.

Menurut Oma bapa bahkan sempat merobek-robek sarung bantal dan memaksa untuk pulang, Karena melihat keadaan dan sikap sang ayah seperti itu membuat Oma khawatir, Oma memutuskan untuk memanggil seorang tabib / pendoa, untuk membantu mendoakan sang ayah.

Setelah di doakan, tabib menyarankan agar Oma dan keluarganya yang lain untuk terus mengawasi sang ayah, dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk kepada ayahnya jika tak ada yang memperhatikan.

Akhirnya, Hari Rabu pagi sekitar pukul 05.30 WITA Oma beserta suaminya mengantarkan Simon pulang ke rumahnya, setelah tiba di rumah Simon sempat duduk beberapa menit di dalam rumahnya sebelum beranjak keluar kembali untuk mengambil buah kelapa.

Ketika keluar dari pintu rumah, Simon melihat ada pancing miliknya, bukannya pergi mengambil buah kelapa, dia malah pergi memancing ikan di Embung, tak beberpa lama simon tak terlihat lagi di Embung.

“Saya melihat bapa memancing di tepi embung, saya juga sedang mencuci pakaian kototr milik bapa, bapa sempat bertanya sedang mencuci apa.”

tutur Oma

“Setelah saya balik ke rumah untuk makan siang, tiba-tiba bapa sudah tidak terlihat lagi di tepi embung,”

lanjutnya

Oma dengan beberapa orang keluarga sudah sempat berkeliling mencari korban ke hutan, kebun dan rumah tetangga.

Tapi hasilnya nihil, mereka tak juga menemukan korban.

Awalnya, Oma dan keluarga tak pernah menduga jika korban tenggelam di embung karena korban diketahui pandai berenang.

Tetapi, saat tas plastik sirih pinang korban terlihat mengapung di atas permukaan Embung, membuat Oma dan keluarga berfikir jika korban tenggelam di dalam Embung.

“Saya dan keluarga yang lain sudah mencari keliling tapi tidak ketemu, Ternyata bapa tenggelam di embung,”

ceritanya.

Menurut laporan Pos Kupang, proses pencarian korban di Embung Toblopo menarik banyak perhatian masyarakat, ada sekitar 100 orang masyarakat desa Toblopo yang terlihat duduk di tepi embung untuk menyaksikan proses evakuasi korban.

Ketika jenazah korban terlihat, tangis histeris keluarga korban langsung terdengar, Jenazah korban yang telah kaku lalu di angkat dari air dan dibawa ke rumah duka.

Keluarga korban menolak dilakukannya otopsi dan menerima ikhlas kematian korban sebagai musibah.

Jenazah korban dimakamkan tepat di samping jenazah sang cucu sesuai permintaan korban sebelum meninggal. Hal ini dimaksudkan agar keluarga bisa sering melihat makam bapak Simon.

Tinggalkan komentar

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)